Thursday, February 17, 2022

Serba-serbi Kopi : Sejarah Kopi

Pernahkan memikirkan bagaimana kisah sebutir biji kopi bisa siap olah hingga sampai di atas meja kita dalam wujud secangkir minuman nikmat?

Dan pernahkan memikirkan dari masa asal usul biji kopi ini, yang dikenal manusia sejak berabad-abad yang lalu?


Menurut penelitian tentang sejarah kopi, yang dikutip dari situs www.ico.com, kopi atau dalam bahasa Inggris Coffee berasal dari kata Kaffa, sebuah daerah yang terletak di Ethiopia.


Oleh seorang mufti yang kebetulan berkunjung ke Ethiopia dan melihat minuman yang memberikan efek menyegarkan itu. Dari Mufti tersebut kemudian kopi dibawa ke Yaman di Jazirah Arab pada abad ke-15. Sejak itu kopi dibudidayakan oleh penduduk Yaman hingga Yaman terkenal sebagai daerah penghasil kopi. Perdagangan kopi terpusat di pelabuhan Yaman bernama Mocha, dari Mocha perdagangan meluas ke Mekah karena daerah ini merupakan pusat perdagangan paling penting di dunia saat itu. Lama kelamaan perdanganan kopi meluas ke Turki dan ke Mesir. Kopi yang disampai ke Turki inilah yang konon kemudian dibawa tentara Turki ke Eropa hingga Eropa mengenal kopi seperti sekarang.


Perkembangan Yaman sebagai penghasil kopi yang terkenal menjadi perhatian para pedagang Arab. Konon sampai dibuat kebijakan monopoli kopi, yaitu melarang ekspor benih kopi untuk kebutuhan budidaya ke luar wilayah Arab. Mereka mengolah biji kopi terlebih dahulu sebelum dijual ke pasaran. Dengan demikian biji kopi tersebut hanya bisa dikonsumsi saja, tidak dapat dibudidayakan. Kopi berkembang menjadi minuman yang sangat populer di Timur Tengah sepanjang abad ke-15. Hal ini mungkin disebabkan juga karena dalam Islam melarang minuman beralkohol (khamr) sehingga kopi menjadi minuman favorit orang-orang Arab.


Kopi menjadi minuman yang trendi saat itu, dan kedai-kedai kopi dibuka di Mekah, dikenal dengan nama Kaveh Kanes. Rumah-rumah kopi ini menjadi tempat pertemuan keagamaan, tapi kemudian segera menjadi tempat bergosip, bernyanyi dan berbagi kisah-kisah. Kopi pernah mengalami 'krisis' di Mekah, akibat perilaku orang-orang fanatik dan berpikiran sempit dengan mengatakan bahwa kopi tidak ada bedanya dengan minuman keras karena membawa efek seperti orang mabuk. Tapi pada akhirnya kopi



kembali berjaya di Mekah dan tidak ada lagi keraguan orang Muslim untuk minum kopi.


Kopi terus berkembang dan mencapai benua Eropa. Ada yang mengatakan tentara Turkilah yang membawa biji kopi ke Eropa, tapi menurut sumber lain, para pedagang Venesia-lah yang mengenalkan Eropa pada kopi pada tahun 1615. Dalam situs berupa lukisan di dinding gereja, digambarkan di sana ada hubungan antara pedagang Arab dan Venesia di abad 15.


Kedai kopi pertama di Venesia dibuka pada 1683. Pada tahun 1720 dibukalah Florian Cafe di Piazza San Marco sebagai kedai kopi tertua yang ada sampai sekarang.


(bersambung)



Ditulis dari berbagai sumber









sumber :

http://www.africaresource.com/house/news/our-announcements/21-the-history-of-coffee

Serba-serbi Kopi dan budaya Membaca



Kopi dalam aktivitas membaca, seperti mouse saat kita menggunakan komputer untuk menulis. Tanpa mouse kita tetap bisa mengetikkan teks, tapi kehadiran mouse membuat proses penulisan teks di layar komputer menjadi mengasyikkan. Apakah anda sepakat dengan perumpamaan itu?

Tidak suka kopi? Oke, bisa diganti dengan teh atau coklat panas, efeknya sama. 


Di dalam masyarakat yang aktivitas membaca dan menulisnya tinggi, kebutuhan pelengkap ini kopi dan sejenisnya menjadi tinggi pula. Mengapa? Membaca sambil minum kopi membawa kenikmatan dan keasyikan tersendiri. Mungkin ada hubungannya dengan daya konsentrasi dan efek kafein :D


Baru saja saya membuka instagram dan mencari foto yang diberi hastag #coffeeandbooks. Lalu diperoleh 26,508 postingan. Dan tampaklah foto-foto kopi dan (membaca) buku mulai muncul di sana. Tapi ingat juga, bahwa tidak semua foto yang menyandingkan buku dengan kopi diberi tanda seperti di atas. Jadi pastinya postingan tentang itu lebih banyak lagi.


Entah sejak kapan orang mulai menyandingkan kopi dengan buku a.k.a. kegiatan membaca, sehingga keduanya menjadi hal yang tidak terpisahkan. Mungkinkah sejak pertama kali kopi ditemukan? Sepanjang pengetahuan penulis, kopi dikenal sebagai minuman yang nikmat pada saat tentara Turki menyerang Eropa. Mereka meninggalkan biji-biji kopi yang kemudian diambil oleh orang Eropa hingga menjadikannya beragam minuman kopi seperti sekarang. 


Kopi adalah satu-satunya minuman non alkohol yang paling populer yang disukai orang. Dan negara kita ini adalah negara penghasil kopi yang terenak di dunia. Menurut situs espressoguide.com, dari sekitar 15 biji kopi terbaik di dunia, 3 diantaranya dari Indonesia - biji kopi Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Indonesia sebagai negara penghasil biji kopi paling enak sudah lama diakui oleh dunia. Meski begitu, ekspor kopi Indonesia untuk konsumsi dunia 'hanya' menempati urutan keempat setelah Brazil, Vietnam dan Kolumbia. 


Jika dibandingkan dengan budaya baca, keadaan ini menjadi berbeda 180 derajad. Meskipun penghasil kopi terenak dan memiliki budaya minum kopi yang kental (banyak warkop :D) sepertinya di Indonesia minum kopi tidak dibarengi dengan aktivitas membaca. Ini terbukti dari laporan The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang mengatakan budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia. Ini tentu memprihatinkan mengingat aktivitas membaca (buku) meningkatkan intelektual seseorang.


Keprihatinan ini berlanjut dengan adanya laporan dari UNESCO tahun 2012 yang menyatakan pula bahwa rata-rata buku yang dibaca oleh satu orang anak Indonesia adalah ZERO alias NOL. Angka pastinya adalah 0,001 persen, alias hanya ada 1000 anak yang membaca 1 buku per tahun. Angka ini jauh jika dibandingkan dengan anak-anak di Eropa yang rata-rata membaca 25 buku per tahun.


Dapatkah dibayangkan apa yang terjadi di masa depan jika kondisi ini dibiarkan?

Siapa yang disalahkan?

Mengapa di Indonesia, orang yang bergelut di bidang literasi ini membutuhkan idealisme yang tinggi?


Mari berpikir sambil menyeruput kopi, dengan terus memberikan dukungan kepada mereka yang berprofesi di bidang Literasi atau pun 'hanya' sebagai relawan penggerak literasi. Sukur-sukur bisa terlibat mulai dari lingkungan di sekitar kita, ke anak, keluarga, RT, RW dan kabupaten setempat. Atau malah jangan-jangan kita sendiri yang ikut andil memberikan angka rendah pada budaya membaca di tanah air Indonesia tercinta ini.


Salam!


Model-model Literasi Informasi (bagian 2)





Pada tulisan sebelumnya, telah sedikit diperkenalkan model-model literasi informasi dan sudah ada sedikit paparan mengenail model yang pertama (1). Berikut kita lanjutkan pada model literasi informasi yang kedua. Selamat membaca!


2. Seven Faces of Information Literacy


Ada beragam definisi tentang literasi informasi, dan itu telah ada di tulisan sebelumnya, tapi tentu tidak membatasi bahwa di luar itu masih bertebaran definisi-definisi lain. Salah satunya adalah apa yang saya temukan kali ini dalam tulisan Christina Bruce, 2003.


Information Literacy is the ability to access, evaluate, organise and use information in order to learn, problem-solve, make decisions - in formal and informal learning contexts, at work, at home and in educational settings.


Literasi Informasi adalah kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, mengelola dan menggunakan informasi untuk belajar, memecahkan masalah, membuat keputusan - dalam konteks pembelajaran formal dan informal, di tempat kerja, di rumah dan di lingkungan pendidikan.


Definisi ini memang isinya senada dengan definisi-definisi yang telah disampaikan sebelumnya, hanya saja ada tambahan penekanan bahwa literasi informasi relevan di semua aspek kehidupan, sehingga dikatakan sebagai keterampilan untuk mendukung belajar sepanjang hayat.


Model kedua kali ini adalah menyoroti pengalaman orang dalam berinteraksi dengan informasi baik itu ketika belajar, mengajar maupun dalam memecahkan permasalahan dan mengambil keputusan-keputusan. Pengalaman-pengalaman ini lah yang akan membawa dia pada kemampuan menggunakan informasi secara efektif dan efisien dan membawanya pada wisdom dari informasi itu sendiri.

Berikut ini 7 wajah dari literasi informasi yang saya kutip langsung alias tidak diterjemahkan ya..


  1. First face      : The IT experience
  2. Second face : The Information sources experience
  3. Third face    : The information process experience
  4. Fourth face  : The information-control experience
  5. Fifth face     : The knowledge construction experience
  6. Sixth face    : The knowledge extension experience
  7. Seven face   : The wisdom experience

Sebelum kita membahas satu per satu dari 7 poin di atas, alangkah baiknya kita sejenak mengingat-ingat apa saja yang sudah kita lakukan berkenaan dengan informasi ini. Beberapa pertanyaan berikut mungkin bisa membantu.

  • Bagaimana kita menggunakan informasi dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pekerjaan?
  • Kapan tepatnya kita menggunakan informasi secara efektif?
  • Pikirkan tentang bagaimana seharusnya seseorang menggunakan informasi secara efektif? (orang yang literate informasi itu menurut anda yang bagaimana?)
  • Bagaimana pengalaman anda dalam mengasah diri anda sendiri untuk menjadi seorang yang literate terhadap informasi, apa yang anda lakukan? apakah mudah? 


Setiap orang menggunakan informasi dengan cara yang berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Seorang mahasiswa tentu berbeda dengan seorang ibu rumah tangga. Seorang anak sekolah tentu berbeda dengan seorang profesional, misalnya. 



Para ilmuwan dan kalangan profesional memandang literasi informasi sebagai: sebuah keterampilan belajar, kombinasi kemampuan TI dan informasi, sebuah proses, cara belajar, cara menggunakan informasi, suatu perilaku informasi. 


Dan, dengan semua hal tersebut di atas, Bruce (2003) merumuskan literasi informasi ke dalam tujuh macam wujud/wajah sebagai berikut




1. The IT experience

Keterampilan Informasi literasi dapat dilihat dari seberapa besar pengalaman seseorang dalam 'menggunakan' TI. Apakah dia selalu menggunakan TI dalam usahanya mencari informasi? Apakah ia menggunakan TI untuk membuatnya tetap terhubung, terinform dengan baik dan untuk berkomunikasi? 


2. The information sources experience

Suatu pengalaman dalam menggunakan sumber-sumber informasi, secara bibliografis, sebagai manusia/individu, dalam berorganisasi, sebagai kemampuan personal atau informasi sebagai alat untuk membantunya dalam membuat suatu keputusan.


3. The Information Process Experience

Pengalaman dalam memahami proses dengan bantuan informasi. Misalnya dalam kaitannya memecahkan masalah, membuat keputusan, menciptakan suatu jenis kreativitas seni.


4. The information-control experience 

Pengalaman dalam menjadikan informasi sebagai 'pusat kendali'- center dalam mengakui informasi yang relevan, mengelola informasi, membuat hubungan antara informasi itu sendiri dengan project dan orang-orang yang terlibat dalam project tersebut (misalnya, research project), dan keterkaitan antara informasi dan bagian-bagian dari project.


5. The knowledge construction experience

Pengalaman mengkonstruksi pengetahuan. Penekanannya pada belajar, mengembangkan perspektif pribadi dengan pengetahuan yang diperoleh, dan tergantung pada berpikir kritis.


6. The knowledge extension experience

Pengalaman mengembangkan pengetahuan dari: Pengetahuan pribadi plus pengalaman plus kreatif insight/intuisi; dari pengalaman-pengalaman misterius; mengembangkan pengetahuan baru/pendekatan baru/solusi baru


7. The wisdom experience

Pengalaman memperoleh/menciptakan wisdom dari informasi menjadi suatu kualitas pribadi individu, nilai-nilai etika yang dianut hasil kombinasi dengan pengetahuannya, dan informasi yang diperolehnya dimanfaatkan/diciptakan kembali (menjadi pengetahuan baru) yang bermanfaat bagi orang lain/keperluan lain. 





Sumber: Saven Faces of information literacy: towards inviting students into new experiences by Christina Bruce, 2003

Model-model Literasi Informasi (Bag. 1)



Literasi Informasi/Information Literacy (IL) adalah sebuah konsep belajar yang jika anda memilikinya maka anda bisa menjadi seorang pembelajar seumur hidup, tanpa harus terdaftar sebagai mahasiswa di kampus mana pun. Meski begitu anda adalah mahasiswa di universitas kehidupan. So, kita lanjutkan ya..

Untuk memahami cara kerja IL, banyak model yang bisa dipakai untuk membuat kita menjadi lebih paham. Di dunia ini ada banyak model telah diciptakan, beberapa diantaranya yang bisa dituliskan di sini adalah:

1. Model yang dibuat oleh IFLA (International Federation of Library Association) yang mengacu pada definisi IL dari ALA (American Library Association)

2. Seven Faces of Information Lietracy

3. Information Skill Model (SCONUL)

4. UI 5 Model (Universitas Indonesia Depok)

5. 7 Langkah Literasi Informasi (UNIKA Atma Jaya Jakarta)


Baiklah mari kita lihat satu per satu model-model tersebut.




1. Model yang dibuat oleh IFLA (International Federation of Library Association) yang mengacu pada definisi IL dari ALA (American Library Association).


IL didefinisikan oleh ALA sebagai berikut:


“To be information literate, a person must be able to recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use effectively the needed information. The information literate individuals are those who have learned how to learn” 


Intinya adalah locate (yang kemudian diterjemahkan sebagai cara akses/access) , evaluate dan use. Maka seseorang dikatakan memiliki skill IL jika ia dapat memenuhi kriteria-kriteria berikut ini:

A. Access

Seseorang dapat mengakses informasi secara efektif dan efisien, ciri-cirinya:

1. Dia tahu informasi apa yang dia butuhkan dan dapat diartikulasikan dengan jelas.

2. Dia tahu harus kemana dalam mencari informasi tersebut. Mengembangkan kata kunci/key word untuk pencarian, menentukan mana yang tepat untuk dirinya, serta dapat menemukan kembali informasi yang telah dia simpan.


B. Evaluation

1. Setelah menemukan informasi yang ia butuhkan, ia juga dapat mengevaluasi informasi tersebut secara kritis. Apakah berasal dari sumber yang dapat dipercaya, apakah informasi tersebut akurat, terkini serta relevan dengan kebutuhannya. Dalam kebutuhan yang lebih lanjut, ia dapat menganalisis, menguji, serta mengekstrak informasi tersebut. Setelah itu ia juga dapat menarik interpretasi dan kesimpulan dari informasi tersebut. 

2. memiliki kemampuan untuk mengelola informasi yang telah ditemukannya itu dengan benar dan baik sehingga mudah dalam menemukan dan menggunakannya kembali jika suatu saat dibutuhkan. Ia dapat membuat kategori yang tepat sesuai kebutuhannya.


C. Use

Memiliki kemampuan menerapkan informasi tersebut secara tepat, akurat dan kreatif, ciri-cirinya:

1. Informasi itu dipakai (tidak hanya disimpan). Menemukan cara baru untuk mengkomunikasikan, menyampaikan dan menggunakan informasi baik secara pribadi maupun untuk orang lain. 

2. Memahami bahwa informasi harus digunakan dengan cara-cara yang etis. Menghargai dan memahami bahwa informasi memiliki sisi legalitas, dan saat menggunakannya perlu menyebutkan sumber aslinya. Dalam penggunaan lebih lanjut, di bidang akademik (lingkungan ilmiah), perlu memahami format-format standar dalam menuliskan sumber. Misalnya, format APA, MLA, Harvard, Turabian, dll.




sumber:

Guidelines on information literacy for lifelong learning, by Jesus Lau, IFLA, 2006

dapat diakses di http://www.ifla.org/files/assets/information-literacy/publications/ifla-guidelines-en.pdf

Definisi Literasi Informasi (Information Literacy)


Literasi dulu sering dikaitkan dengan 'baca tulis', kini pengertian tersebut tergantung dari subyek apa yang dikaitkan dengannya misalnya: literasi perbankan, literasi hukum, literasi nutrisi, dan lain-lain. Literasi Perbankan adalah pemahaman seseorang tentang dunia perbankan. Demikian juga dengan literasi hukum, dan seterusnya.


Lalu apa itu literasi informasi? Apakah berarti juga sebuah kemampuan seseorang dalam memahami 'dunia informasi'?


Literasi Informasi adalah sebuah keterampilan yang wajib dimiliki oleh setiap kita yang hidup di era yang serba digital ini, era meluapnya informasi (information explosion). Jika tidak, maka kita akan dihadapkan pada permasalahan tentang bagaimana menemukan informasi yang tepat dan relevan dengan cara yang efektif dan efisien, serta bagaimana menggunakan informasi secara etis.


Tidak ada definisi yang pasti untuk literasi informasi. Berikut ini adalah kumpulan beberapa definisi yang diperoleh dari berbagai sumber, semoga dapat memenuhi rasa penasaran kita mengenai apa itu Literasi Informasi/Information literacy.


Information Literacy:

  • "The ability to solve information problems"   (ALA, 2000)
  • "A survival skill in the information age"    (ALA, 1989)
  • "The ability of transforming information into knowledge"  (Gawith, 2000)
  • "A set of abilities requiring individuals to “recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use effectively the needed information" (ALA 2000)
  • "Knowing when and why one needs information, where to find it, and how to evaluate, use and communicate it in an ethical manner."   (CILIP)
  • "The ability to effectively identify, access, evaluate and make use of information in its various formats, and to choose the appropriate medium for communication. It also encompasses knowledge and attitude related to ethical and social issues surrounding information and information technology" (California Academic and Research Library Task Force, 1997)
  • A mean to "empower people in all walks of life to seek, evaluate, use and create information effectively to achieve their personal, social, occupational and educational goals." (Alexandria Proclamation, 2005)

Pada akhirnya Literasi Informasi disimpulkan menjadi: seperangkat keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa untuk mendapatkan, mengidentifikasi dan menggunakan informasi, mengevaluasi sumber-sumber informasi yang otoritatif, mengelola dan menyimpan informasi dengan benar serta dapat menggunakan informasi secara etis. Yang bertujuan untuk membentuk pribadi-pribadi yang berpikir kritis dan menjadi pembelajar seumur hidup. 






Serba-serbi Kopi : Sejarah Kopi

Pernahkan memikirkan bagaimana kisah sebutir biji kopi bisa siap olah hingga sampai di atas meja kita dalam wujud secangkir minuman nikmat? ...